Klinik Apollo, Jakarta – Vagina gatal setelah menopause dapat terjadi akibat berbagai kondisi, terutama perubahan hormon estrogen yang memengaruhi kesehatan jaringan vagina dan vulva. Meski cukup umum, keluhan ini tetap perlu diperhatikan karena tidak selalu disebabkan oleh menopause.

Rasa gatal dapat disertai vagina kering, perih, sensasi terbakar, kemerahan, nyeri saat berhubungan seksual, atau rasa tidak nyaman ketika buang air kecil. Menentukan penyebabnya penting agar penanganannya sesuai.

Penyebab Vagina Gatal Setelah Menopause

Berikut adalah beberapa kondisi yang bisa menyebabkan vagina atau area vulva terasa gatal setelah menopause, antara lain:

1. Penurunan Hormon Estrogen

Setelah menopause, kadar estrogen menurun. Kondisi ini bisa membuat jaringan vagina dan vulva menjadi lebih tipis, kering, kurang elastis, dan lebih mudah mengalami iritasi.

Perubahan tersebut dikenal sebagai genitourinary syndrome of menopause (GSM) atau sindrom genitourinari menopause. Gejalanya bisa berupa kekeringan, rasa gatal, perih, sensasi terbakar, nyeri saat berhubungan seksual, serta keluhan pada saluran kemih.

2. Vagina Kering

Berkurangnya estrogen juga bisa menurunkan produksi pelumas alami vagina. Akibatnya, permukaan jaringan menjadi lebih mudah mengalami gesekan dan iritasi.

Vagina kering bisa menyebabkan rasa gatal atau perih, terutama setelah berhubungan seksual, menggunakan pakaian terlalu ketat, atau ketika area genital mengalami gesekan berulang.

Menurut The Menopause Society, pelembap vagina yang Anda gunakan secara rutin dan pelumas saat berhubungan seksual bisa membantu mengurangi kekeringan dan ketidaknyamanan pada sebagian hubungan.

3. Infeksi Jamur

Infeksi jamur, terutama yang disebabkan oleh Candida, juga bisa menimbulkan rasa gatal pada vagina dan vulva. Keluhan ini bisa muncul bersamaan dengan kemerahan, rasa perih, atau keputihan yang tidak biasa.

Namun, vagina gatal setelah menopause tidak selalu berarti infeksi jamur. Penggunaan obat antijamur tanpa mengetahui penyebabnya, bisa membuat penanganan menjadi tidak tepat.

4. Infeksi atau Gangguan pada Vagina

Selain infeksi jamur, gangguan lain pada vagina bisa menyebabkan gatal, iritasi, perubahan cairan vagina, bau tidak biasa, atau rasa perih.

Oleh karena itu, apabila gatal muncul dengan perubahan keputihan, bau menyengat, nyeri, atau keluhan yang menetap, pemeriksaan dokter dapat membantu menentukan penyebabnya.

5. Iritasi dan Produk Perawatan

Kulit vulva yang mengalami perubahan setelah menopause dapat menjadi lebih sensitif. Produk tertentu berpotensi menyebabkan iritasi, seperti sabun beraroma wangi, cairan pembersih kewanitaan, tisu berparfum, pembalut, atau produk lain yang mengandung bahan iritan.

Hindari penggunaan produk yang menyebabkan rasa perih atau gatal semakin berat. Area genital sebaiknya Anda bersihkan secara lembut, dan tidak perlu menggunakan pewangi khusus.

Bagaimana Cara Mengatasi Vagina Gatal Setelah Menopause?

Penanganan vagina gatal perlu sesuai dengan penyebabnya. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa Anda lakukan, antara lain:

1. Hindari Produk yang Bisa Mengiritasi – Kurangi penggunaan sabun atau produk kewanitaan beraroma wangi pada area genital.

2. Gunakan Pelembap Vagina Bila Perlu – Pelembap vagina bisa digunakan secara rutin, untuk membantu menjaga kelembapan. Sementara itu, pelumas bisa Anda gunakan saat berhubungan seksual untuk mengurangi gesekan.

3. Periksa Jika Keluhan Menetap – Gatal yang terus muncul perlu Anda periksa, untuk mengetahui apakah disebabkan oleh GSM, infeksi, iritasi, atau kondisi kulit tertentu.

4. Terapi Estrogen Lokal Berdasarkan Pemeriksaan Dokter – Pada keluhan yang berkaitan dengan GSM, dokter bisa mempertimbangkan estrogen vagina dosis rendah. Terapi ini bisa dokter berikan langsung pada area vagina dan bisa membantu mengurangi kekeringan, iritasi, serta ketidaknyamanan akibat perubahan jaringan setelah menopause.

Penggunaan terapi hormon sebaiknya tidak Anda lakukan sendiri. Dokter perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan, riwayat penyakit, obat yang sedang Anda gunakan, serta penyebab keluhan sebelum menentukan terapi.

Kapan Vagina Gatal Setelah Menopause Perlu Diperiksa?

Vagina gatal sebaiknya tidak Anda abaikan, terutama jika berlangsung terus-menerus atau semakin berat. Konsultasikan dengan dokter jika gatal muncul dengan keluhan seperti:

  • Keputihan yang berubah warna, jumlah, atau konsistensinya
  • Bau vagina yang tidak biasa
  • Vagina atau vulva terasa terbakar dan sangat perih
  • Nyeri ketika berhubungan seksual
  • Luka, lecet, atau perubahan kulit pada vulva
  • Perdarahan dari vagina setelah menopause

Keluhan setelah menopause dapat memiliki beberapa penyebab yang berbeda, sehingga pemeriksaan perlu untuk menentukan penanganan yang sesuai.

Pentingnya Pemeriksaan Vagina Gatal Setelah Menopause

Berdasarkan pengalaman tim medis Klinik Apollo Jakarta, keluhan gatal pada area kewanitaan sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai infeksi. Setelah menopause, perubahan kadar hormon bisa memengaruhi kondisi jaringan vagina dan menyebabkan gejala yang menyerupai infeksi.

Dokter bisa melakukan evaluasi berdasarkan keluhan, riwayat kesehatan, serta pemeriksaan yang diperlukan. Jika ditemukan tanda infeksi atau kondisi lain, penanganan bisa disesuaikan dengan penyebabnya.

Jangan menunda pemeriksaan jika vagina gatal setelah menopause terus berulang atau disertai keluhan lain. Konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penyebab, dan mendapatkan penanganan yang tepat.

vagina gatal setelah menopause 2_4_11zon

Ilustrasi seorang wanita yang mengalami vagina gatal setelah menopause

FAQ Seputar Vagina Gatal Setelah Menopause

1. Apakah Vagina Gatal Setelah Menopause Normal?

Gatal bisa berkaitan dengan perubahan hormon setelah menopause, terutama akibat kekeringan dan perubahan jaringan vagina. Namun, gatal juga bisa disebabkan oleh infeksi atau iritasi, sehingga tidak selalu bisa dianggap sebagai bagian normal dari menopause.

2. Apakah Vagina Kering Bisa Menyebabkan Gatal?

Ya. Kekurangan estrogen dapat membuat jaringan vagina lebih tipis dan kering, sehingga lebih mudah mengalami iritasi, gatal, perih, atau terbakar. Kondisi tersebut merupakan bagian dari gejala genitourinari menopause.

3. Apakah Vagina Gatal Setelah Menopause Harus Menggunakan Obat?

Tidak selalu. Pengobatan bergantung pada penyebabnya. Jika keluhan berkaitan dengan kekeringan akibat menopause, pelembap vagina dapat membantu. Pada kondisi tertentu, dokter mungkin mempertimbangkan terapi estrogen lokal atau pengobatan lain sesuai hasil pemeriksaan.

4. Apakah Vagina Gatal Setelah Menopause Bisa Terjadi Akibat Infeksi?

Bisa. Infeksi jamur maupun gangguan vagina lainnya bisa menyebabkan gatal. Karena penyebabnya beragam, pemeriksaan penting terutama jika keluhan disertai keputihan, bau, nyeri, atau terus berulang.

5. Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan dengan dokter jika gejala tidak membaik, sering kambuh, mengganggu aktivitas, atau disertai keputihan tidak normal, nyeri, luka, perubahan kulit, nyeri saat buang air kecil, maupun perdarahan setelah menopause.

Baca Juga: Cara Menjaga Kesehatan Vagina yang Benar dan Aman

Cek Penyebab Pasti Vagina Gatal Setelah Menopause di Klinik Apollo Jakarta

Mengenali penyebab pasti vagina gatal setelah menopause, bisa membantu wanita untuk mengambil langkah penanganan yang tepat.

Jangan cemas! Anda bisa berkonsultasi dengan dokter berpengalaman di Klinik Apollo Jakarta untuk mendapatkan penanganan yang akurat.

Dengan fasilitas dan peralatan medis yang lengkap, Anda bisa mendapatkan diagnosis yang akurat dan juga tepat.

Selain itu, kami juga menyediakan layanan Konsultasi Dokter Online yang memudahkan pasien dalam berkonsultasi kapan dan di mana saja.

Layanan ini bisa Anda akses melalui Chat WhatsApp, yang beroperasi selama 24 jam dan tersedia secara gratis.

Jadi, tunggu apalagi? Segera konsultasikan kondisi Anda dengan tim medis kami dan dapatkan perawatan yang tepat.

Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta

penyakit menular seksual pms
Andrologi
Ginekologi

Lokasi Klinik Utama Apollo

Comments